Langsung ke konten utama

DONATUR SEDEKAH TITIPAN : Total Penerimaan : 1.950.000 |(17/05) 1. Hamba Allah Rp. 200.000, 2. Siti Nurohmah Rp. 1.000.000. 3. Made Malinda K (Debong) Rp. 500.000 4. Sameera 50 Kg Beras (Dalam Bentuk Dana) 5.Laelawati Rp.100.000 6.Hamba Allah Rp. 50.000 7.Hamba Allah Rp.70.000 8.Hamba Allah Rp. 30.000. 9. Hamba Allah, 10 Kg Telur. Terima Kasih Atas Donasinya, Semoga Allah SWT memberikan balasan yang terbaik. Aamiin. Rekening Sedekah Titipan : BCA No.Rek. 493-010-6076 a.n Tubagus Ganden Arkadi    

Unggulan

Seuntai Doa Alumni Untuk Bapak Rektor IPB

GANDENKU.COM | Khabar Sahabat - Ahad malam kemarin (20/09/2020) merupakan malam spesial yang dibuat oleh Alumni IPB angkatan 32. Malam yang menjadi kado buat bapak Rektor IPB, Prof.Dr.Arif Satria yang saat ini sedang menjalankan inisiatif Isolasi Mandiri. Alumni IPB 32 di ahad malam tersebut membuat kegiatan secara on air melalui channel radio online Distorsi Jiwa yang khusus dipersembahkan untuk menghibur pak Rektor. Ada banyak untaian doa yang disampaika  Alumni IPB 32 melalui radio tersebut, kegiatan yang digagas oleh panitia reuni perak ini merupakan kegiatan yang bersifat dadakan. Namun demikian, meski dilakukan dadakan namun tidak mengurangi pesan yang ingin disampaikan. Ide kegiatan tersebut menurut Teh Rini Yusuf, sekjen DPD HA IPB Jawa Barat merupakan hal yang bagus, begitu juga dengan yang disampaikan oleh Teh Nelly Oswini pengurus pusat DPP HA IPB dan juga mantan sekjen DPP HA IPB periode sebelumnya menyambut baik kegiatan ini.Mengutip pembawa radio Kang Odhe Alumni IPB 32 …

Statistik Tidak Pernah Berbohong, Tapi Pembohong Gemar Memproduksi Berbagai Statistik

Foto : Prof. Khairil Di Tengah Alumni IPB
GANDENKU.COM | Saat ini kita sedang memasuki era pasca-kebenaran (BUKAN paska). Era pasca-kebenaran adalah suatu era dimana sesuatu yang kita percayai sering kali kita terima sebagai kebenaran. Jadi kebenaran telah tersusul dan dikalahkan oleh kepalsuan yang kita percaya sebagai layaknya kebenaran. Pencitraan, misalnya, merupakan suatu upaya untuk memanipulasi kepercayaan masyarakat agar kepalsuan bisa diterima sebagai kebenaran.

Sangat memperihatinkan bahwa masyarakat kita saat ini terperangkap dalam kepalsuan. Tidak hanya kepalsuan dalam arti harfiah seperti vaksin palsu, ijazah palsu, uang palsu, polisi palsu, atau janji palsu tetapi banyak juga kepalsuan dalam bentuk lain. Kepalsuan lain mencakup informasi yang tidak representatif ataupun penyalah-gunaan statistik ("abuse of statistic").

Apalagi di era medsos ini, banyak sekali informasi yang menyesatkan, tetapi karena diberitakan secara masif dan ditambah dengan kemampuan viral dari medsos maka berita itu lalu diterima sebagai kebenaran. Bisa dibayangkan apa akibatnya jika berita tersebut adalah finah. Apa yang terjadi jika berita itu adalah provokasi yang menghasut?

Kita sering menyaksikan ada satu orang menyampaikan pendapatnya yang kontra terhadap suatu pendapat yang umum ("main stream") yang berdasarkan pada fakta. Kemudian pendapat ini dibesar besarkan oleh berbagai media pada setiap kesempatan sehingga terkesan ini adalah pendapat mayoritas. Akhirnya pendapat yang bersebrangan dengan fakta inilah yg diterima sebagai kebenaran oleh masyarakat awam. Media telah berhasil mengubah kepalsuan menjadi 'kebenaran'.

Statistik pun tidak jarang 'diperkosa' dan dijadikan argumen pembenaran dengan berlidung di balik kata sakti: survei ilmiah. Padahal metode pengumpulan datanya direkayasa dan data yang terkumpul pun dimanipulasi agar hasilnya sesuai dengan pesanan. Mau si A yang diunggulkan dalam survei ataukah si B, ya monggo saja. Statistik lalu tidak berdaya karena statistik hanyalah alat belaka. Penggunanyalah yang berkuasa menghitam-putihkan statistik. Sehingga benarlah adagium ini:

"Statistics do not lie, but liars fabricate statistics".

Statistik-statistik itu tidak bisa berbohong, tetapi pembohong gemar memproduksi berbagai macam statistik..

Wallahua'lam...

Oleh : Prof. Khairil Anwar Notodiputro
Sumber : Akun Facebook 

Postingan Populer