Langsung ke konten utama

DONATUR SEDEKAH TITIPAN : Total Penerimaan : 1.950.000 |(17/05) 1. Hamba Allah Rp. 200.000, 2. Siti Nurohmah Rp. 1.000.000. 3. Made Malinda K (Debong) Rp. 500.000 4. Sameera 50 Kg Beras (Dalam Bentuk Dana) 5.Laelawati Rp.100.000 6.Hamba Allah Rp. 50.000 7.Hamba Allah Rp.70.000 8.Hamba Allah Rp. 30.000. 9. Hamba Allah, 10 Kg Telur. Terima Kasih Atas Donasinya, Semoga Allah SWT memberikan balasan yang terbaik. Aamiin. Rekening Sedekah Titipan : BCA No.Rek. 493-010-6076 a.n Tubagus Ganden Arkadi    

Unggulan

Teh Ati Sosok Alumni IPB Yang Baik dan Ramah

GANDENKU.COM | Sosok - Alumni IPB yang satu ini merupakan orang yang baik dan ramah yang pernah saya kenal. Ia adalah sosok yang supel dan tidak membedakan siapa teman bicaranya. Hari ini kebetulan melintas sebuah berita di beranda google ketika saya mencari informasi yang lain, penasaran dengan beritanya.Meskipun ini berita tahun 2008 atau 12 tahun yang lalu, asli pas baca sangat menarik sosok teteh yang satu ini. Berikut berita tentang sosok teteh yang baik ini yang saya ambil dari webnya kangsanusi.com.SEBAGAI wanita yang bergerak dibidang jasa kontruksi (konsultan kontruksi), Ati sapaan akrab wanita berusia 40 tahun dengan nama lengkap Ir Ati Hartati, M.Si tidak menyesal konsen di dunia usaha ini sejak usia 22 tahun. Sebab, dari 7000 pengusaha di bidang jasa kontruksi, kaum wanita tidak 5 persennya se-Indonesia yang bergelut dan memegang kendali perusahaan semacam ini.Kental dengan keluarga guru, Ati yang asli orang Serang ini rela melepaskan bayang-bayang keluarganya yang cenderu…

Komedian Dalam Gerbong Kereta

GANDENKU.COM | KisMah - Kamis pekan pertama di bulan Juni 2011, saya dan kedua anak saya ke Bogor naik kereta dari Pasar Minggu. Sudah menjadi biasa jika kereta yang akan berangkat selalu telat, komentar yang sinis mengatakan "Inilah Indonesia". Tapi bagiku semua pasti ada hikmahnya, buktinya dengan adanya keterlambatan banyak orang yang kecewa dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan moda transportasi lainnya, dan tentunya sudah bisa ditebak bahwa kereta yang saya tumpangi bersama kedua anakku yang masih kecil jadi lebih lengang.

Tepat di depan gerbong terdepan tertulis dengan tulisan besar "AC EKONOMI" setiap orang akan berpikir bahwa AC sudah pasti dingin, tapi lain halnya dengan AC yang ada dalam kereta yang saya tumpangi tersebut. Maklum saja kereta AC ini ditambah embel-embel tulisan EKONOMI, setiap orang sudah maklum bahwa yang namanya kelas Ekonomi pastinya kelas paling bawah di antara levelitas lainnya, dan ternyata AC pun begitu. Tapi untungnya didalam kereta tersebut terdapat beberap kipas angin dan hal ini paling tidak memberi sedikit kesejukan pada para penumpangnya, Alhamdulillah...

45 menit kereta melaju dari arah Pasar Minggu menuju Bogor, sekilas saya masih sering mengingat perjalanan dulu ketika pulang dari Bogor ke Pandeglang yang menggunakan kereta dari Bogor dan turun di Juanda,..aahh..itu masa lalu, kereta masa lalu yang dinaiki penuh sesak, seolah manusia seperti 'ikan asin' ditumpuk, ataukah masih sampai sekarang ?

Setibanya di Bogor saya pun bertemu dengan seorang untuk urusan sesuatu, singkatnya setelah selesai ketemuan saya hendak melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Jakarta, karena ada acara yang harus saya ikuti. Walaupun keputusan ini sempat diprotes oleh 'kaka ola' karena merasa 'rugi' ikut jalan-jalan cuma naik kereta saja. Tapi protesnya yang disampaikan aku jawab dengan penjelasan yang mudah dipahami oleh seorang anak SD, lalu bagaimana dengan sikecil ayu ? ia hanya nurut saja maklum usianya juga baru 2 tahun.

Suara speaker di statsiun bersuara lantang yang mengatakan bahwa kereta AC Ekonomi ada di jalur 5, sayapun naik. Lalu dicari tempat duduk. Hilir mudik dikereta tentunya sudah menjadi biasa, ada pedagang yang menawarkan mainan, minuman dan berbagai maca jualan lainnya. Begitu pula dengan pengamen jalanan khas gerbong kereta dengan peralatan musik lengkap, dengan lagu-lagu yang 'enak' didengar, maklum lagu dan lirik yang disampaikan lebih dekat dengan telinga rakyat.

Tiba waktunya datang pengamen dengan jumlah personel cukupa banyak, kalau boleh saya hitung jumlahnya tidak kurang dari 9 orang, masing-masing memiliki peranannya sendiri. Group musik jalanan ini menamakan dirinya musik komedian dengan iringan biola dan gitar bass yang khas saya dan kedua anak saya beserta seluruh penumpang menikmatinya dengan santai. Sesekali penumpang termasuk saya tertawa, maklum isinya sangat komedian.

Komedian musik ini bagi saya setidaknya menghibur diri saya setelah merasakan 'komedian perilaku' yang sering kita saksikan, baik dalam lingkungan masyarakat terdekat maupun yang dipertontonkan para 'politikus' yang kerap bermanuver bahkan sering kali memaksakan untuk berbuat lucu padahal yang dihasilkan tidaklah menghibur rakyatnya. Begitupula dengan komedian dari kereta yang saya naiki ini, karena sudah lama menunggu akhirnya kereta yang harus di naikin dipindahkan lagi....

Postingan Populer