Langsung ke konten utama

DONATUR SEDEKAH TITIPAN : Total Penerimaan : 1.950.000 |(17/05) 1. Hamba Allah Rp. 200.000, 2. Siti Nurohmah Rp. 1.000.000. 3. Made Malinda K (Debong) Rp. 500.000 4. Sameera 50 Kg Beras (Dalam Bentuk Dana) 5.Laelawati Rp.100.000 6.Hamba Allah Rp. 50.000 7.Hamba Allah Rp.70.000 8.Hamba Allah Rp. 30.000. 9. Hamba Allah, 10 Kg Telur. Terima Kasih Atas Donasinya, Semoga Allah SWT memberikan balasan yang terbaik. Aamiin. Rekening Sedekah Titipan : BCA No.Rek. 493-010-6076 a.n Tubagus Ganden Arkadi    

Unggulan

[ FOTO ] Foto-Foto Pasca Ledakan Di Libanon

Foto : Getty Image Sumber : BCC News Indonesia

Tidak Ada Alasan Memperlonggar Diri Dalam PSBB

GANDENKU.COM | Netizen - Saya hampir setiap hari mengamati dan mencermati perkembangan penderita Covid-19 dari data yg disajikan Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Maklum, saya punya sahabat mas Hanibal Wijayanta, wartawan tvone yang rajin mengupdate info ini di semua grup yang beliau ikuti (mungkin). Qadarullah, mungkin ada 5 atau 6 grup saya bareng dg beliau. Padahal setiap hari mas Han posting 9 gambar data2 ini shg gallery picture saya cepat penuh...😊

Intinya, grafik penderita positif Covid-19 di negeri ini sampai hari ini belum menunjukkan angka penurunan. Yg saya perhatikan bukan jumlah penderita positif tapi "kenaikan" (akselerasi)  jumlahnya. Itu lho, angka kecil yg sebelahnya ada panah ke atas di atas angka jumlah penderita positif. Meskipun banyak tp kalau akselerasinya menunjukkan penurunan, itu merupakan gejala yg baik. Namun jika angkanya masih di situ2 saja -karena ini angka akselerasi, berarti jumlah penderita makin bertambah banyak. Dan data kemarin menunjukkan angka percepatan tertinggi sepanjang sejarah kita. Lepas dari mungkin yg dites makin banyak atau hasil tes diakumulasi baru sekarang direkap dsb, yg jelas angka masih tinggi dan belum ada gejala turun.

Dan biasanya, sekali lagi biasanya, data resmi itu sebuah gunung es. Artinya, angka di lapangan biasanya lebih dari itu. Mngkin yg mendekati adalah jumlah jenazah yg dikubur dg protokol Covid-19. Tapi kan data resminya tidak disajikan. Jadi, kita semua sama2 menggunakan data yg sama yg setiap sore disajikan pak jubir Achmad Yurianto (yg sampai saat ini belum pernah saya lihat beliau tersenyum, krn memang sejak beliau tampil data penderita selalu meningkat. Semoga ketika data sdh turun kita saksikan beliau tersenyum di depan layar televisi).

Maka, sebenarnya tidak ada alasan memperlonggar diri dalam PSBB ini. Tidak ada alasan keluar rumah tanpa alasan yg urgent and important. Kondisi 1 bulan yg lalu dan kondisi sekarang masih sama saja bahkan lebih parah. Tapi mengapa jalanan dan tempat2 umum lebih ramai dari sebulan lalu? Apakah karena akan lebaran? Bukankah nanti ketika lebaran kita juga tdk bisa bersilaturahim dan kemana2? Kalau ini tidak dikendalikan dan pemerintah tidak tegas, bisa terjadi lonjakan penderita Covid-19 setelah lebaran.

Juga terhadap teman2 yg keukeuh ingin membuka masjid dan shalat ied di lapangan. Tidak ingin bersuudzan, tp keinginan itu saya menduga dipicu oleh keluarnya orang2 ke pasar, ke bandar, ke terminal dan tempat2 umum lainnya. Ke pasar boleh kok ke masjid tidak boleh. Belum lagi ditambah teori konspirasi yg dihembus2kan bahwa corona ini utk menjauhkan umat Islam dari masjid dan mengosongkan dakwah.

Memang ada panduan dari pemerintah daerah dan mui, terutama di tempat tinggal saya di Bekasi, jika daerah zona hijau silakan mengadakan shalat ied, dg berbagai catatan dan ijin yg tdk gampang. Salah satu protokol PSBB ini kita harus jaga jarak, social distancing. Sedangkan shaf shalat itu harus lurus dan rapat. Jadi pasti protokol itu akan dilanggar. Saya sih yakin dg anak2 laki2 saya tidak terpapar krn sehari2 saya bersama mereka. Tidak mengapa saya shalat rapat2 dg anak2 saya. Tapi terhadap tetangga saya yg masih satu kompleks namun tinggal di ujung kompleks, bagaimana saya tahu dia habis dari mana dan ketemu siapa kemarin? Lalu dia shalat di sebelah saya, apa saya harus merenggangkan shaf yg itu dilarang Nabi?

Lagi pula, shalat ied adalah shalat sunah meski itu setahun sekali. Tidak shalat juga tidak apa2. Kalaupun kita boleh berkumpul shalat ied maka shalat rawatib dan shalat jumat lebih utama utk didahulukan. Pertanyaannya, kita mengadakan shalat ied di lapangan itu karena kita ingin (nice to) atau karena harus (must to) shalat?

Saja setuju dg himbauan Prof. Din Syamsuddin, umat Islam jangan balas dendam atau terpancing utk ikut2an bikin kerumunan. Aa Gym juga menasihati kita agar tetap di rumah saja karena krisis belum berakhir.

Sekali lagi, kondisi hari ini masih sama bahkan lebih parah dari bulan lalu. Sdh seharusnya kita lebih memperketat diri dan bersabar. Insya Allah badai segera berlalu. Ingat, setalah badai akan muncul cuaca yg cerah dan udara yg segar. Keindahan tersebut tidak akan berarti tanpa kehadiran rekan2 semua....(bukan mendoakan lho)

Saya yakin banyak teman2 saya yg kurang setuju dg pendapat saya ini. Tapi boleh dong kita berbeda pendapat dan saya menyatakan pendapat serta mempengaruhi Anda utk ikut pendapat saya...😊

Oleh : Budi Handrianto
Sumber : FB Budi Handrianto

Komentar


Postingan Populer